Senin, 04 Februari 2013

makalah sejarah peradaban Islam


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Jatuhnya kota baghdad pada tahun 1258 M ke tangan bangsa Mongol bukan saja mengakhiri khilafah abbasiyah disana, tetapi juga merupakan awal dari masa kemunduran politik dan peradaban islam, karena baghdad lenyap dibumihanguskan oleh pasukan Mongol yang dipimpin Hulagu Khan.
Bangsa Mongol berasal dari daerah pegunungan Mongolia yang membentang dari Asia Tengah samapai ke Siberia utara, Tibet Selatan dan Manchuria Barat serta Turkistan Timur. Maka dari itu, dari pembahasan ini kami mencoba untuk memahami sejarah bangsa Mongol (dinasti ilkhan) dan Timur Lenk.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bangsa Mongol (Dinasti Ikhan)
2.      Timur Lenk


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Bangsa Mongol
1.      Pengertian
Asal mula bangsa Mongol ialah dari masyarakat hutan yang mendiami Siberia dan Mongol luar disekitar Danau Baikal.[1] Nenek moyang mereka bernama Alanja Khan, yang mempunyai dua putra kembar, Tartar dan Mongol, kedua putra itu melahirkan dua suku bangsa besar, Mongol dan Tartar. Mongol mempunyai anak, bernama Ilkhan yang melahirkan keturunan pemimpin bangsa mongol dikemudian hari.[2]
Bangsa Mongol mempunyai watak keras, berani dan suka perang. Bahkan mereka berani menghadapi maut untuk mencapai keinginan mereka. Akan tetapi disisi lain, mereka mempunyai sikap patuh serta loyalitas yang tinggi kepada pemimpin.[3]
Mereka menganut Agama Syamaniah (Syamanism), menyembah bintang – bintang dan sujud kepada matahari yang sedang terbit.[4]
2.      Pemimpin Bangsa Mongol
a.       Yasugi Khan (w. 1175 M)
Pemimpin bangsa Mongol yang pertama yang diketahui dalam sejarah ialah Yasugi Bahadu Khan. Dia berhasil menyatukan 13 kelompok suku yang ada pada waktu itu.
b.      Jengis Khan
Setelah kematian Yesugay, Jengis Khan memimpin bangsa Mongol. Jengis aslinya bernama Temujin, seorang pandai besi yang mencuat namanya karena memenangkan perselisihan dengan Ongkhan atau Togril, seorang kepala suku Kereyt. Jengis sebenarnya adalah gelar bagi Temujin yang diberikan kepadanya oleh sidang kepala-kepala suku Mongol yang mengangkatnya sebagai pemimpin tertinggi bangsa itu pada tahun 1206, atau juga disebut Jengis Khan atau Raja yang Agung, ketika ia berumur 44 tahun.[5]
Jengis Khan menyempurnakan Moral masyarakatnya dengan undang-undang yang dibuatnya, yakni Yasa atau Yasaq. Isi undang-undang tersebut antara lain : hukum mati bagi siapa yang berbuat perzinaan, sengaja berbuat bohong, melaksanakan magik, mata-mata, membantu salah satu dari dua orang yang berselisih, memberi makan atau pakaian kepada tawanan perang tanpa izin, dan bagi yang gagal melaporkan budak belian yang melarikan diri juga dikenakan hukuman mati.[6]
Jengis Khan berusaha memperluas wilayah kekuasaan dengan melakukan penaklukan terhadap daerah-daerah lain. Serangan pertama diarahkan ke Kerajaan Cina. Ia berhasil menduduki peking pada tahun 1215 M. Sasaran selanjutnya adalah negeri-negeri Islam. Pada tahun 1209 M, tentara Mongol keluar dari negerinya dengan tujuan Turki dan Ferghana, kemudian terus ke Semarkand.[7]
Pada saat kondisi fisiknya mulai lemah Jengis Khan membagi wilayah kekuasaanya menjadi 4 bagian kepada 4 orang putranya,[8]
c.       Juchi (Jochi)
Jochi sebagai putra pertama mendapatkan daerah Siberia bagian barat dan Stepa Qipchaq yang membentang sampai Rusia bagian selatan yang termasuk didalamnya Khawarizm. Namun dia meninggal sebelum wafat ayahnya, sehingga wilayah warisannya itu diberikan kepada anak Jochi yang bernama Batu dan Orda.[9]
d.      Chagatay
Chagatay mendapatkan daerah yang membentang ke timur, sejak dari  Transoxania hingga Turkestan Timur atau Turkestan China.
e.       Ogedey (Ogotay)
Ogedey, merupakan putera Ganghis Khan yang terpilih oleh Dewan Pemimpin Mongol untuk menggantikan ayahnya sebagai Khan Agung yang mempunyai wilayah di Damirs dan T’ien Syan. Tetapi dua generasi Khan kemudian jatuh ke tangan keturunan Toluy, anak ke empat.[10]
f.       Toluy / Toli
Tuli Khan menguasai Khurasan. Karena kerajaan-kerajaan Islam sudah terpecah belah dan kekuatannya sudah lemah. Tuli dengan mudah dapat menguasai Irak. Ia meninggal tahun 1256 M dan digantikan oleh putranya, Hulagu Khan.[11]
g.      Hulagu Khan (1256 – 1265 M)
Hulagu Khan mendirikan kerajaan II-Khaniyah yang berpusat di Tabriz dan Maragha. Dia dipercaya oleh saudaranya, Mongke Khan, untuk mengembalikan wilayah-wilayah Mongol di Asia barat yang telah terlepas dari kekuasaan Mongol setelah kematian Genghis. Hulagu dapat menguasai wilayah yang luas meliputi Persia, Irak, Caucasus dan Asia Kecil.[12]
Kemudian ancaman dari tentara Mongol mengarah ke Mesir. Raja Mesir ketika itu ialah Saifuddin Qathaz. Dialah Raja yang tidak patah semangat menghadapi bahaya bangsa Mongol. Disatu tempat yang bernama “Ain Jalut”, batas negeri syam dengan Mesir dapatlah Mesir menyekatnya dengan bala tentaranya yang semangat, sehingga banjir bangsa Mongol itu tertahan, tidak dapat meluaskan kekuasaannya ke Mesir. Nyaris hancur tentara Hulagu Khan di “Ain Jalut” sehingga dengan segera mereka mundur kembali ke pusat asal kekuasannya di Azerbaijan. Disanalah Hulagu Khan mendirikan kota yang sangat indah sekali bernama kota maragah. Di kota ini, Hulagu Khan menutup mata.
h.      Abaqa Khan (1265 – 1282)
Pada saat Abaqa menjadi raja, pendeta-pendeta Kristen dari Romawi Timur (Konstantinopel) berusaha menyebarkan agama Kristen kenegeri – negeri Iran, wilayah kekuasannya. Abaqa membiarkan penyiaran agama itu di Iran, karena jika orang Mongol bergabung dengan kaum Kristen itu, akan bertambah kekuatan untuk menghancurkan islam. Untuk merapatkan hubungannya itu, abaqa meminang puteri Kaisar Mukhail Pilogus Kaisar Byzantium. Pinanganya dikabulkan, karena pihak Nashrani mengharap dia akan memeluk agama Kristen, tetapi sampai wafatnya Abaqa tidaklah memeluk agama yang tentu.
i.        Nikodar Khan / Tikudar (1282 – 1284)
Nikodar Khan merupakan adik dari Abaqa Khan. Diwaktu kecilnya Nikodar telah ditakmidkan (dibaptiskan) dalam gereja Katholik – Orthodok dan memakai nama Nicolas. Tetapi setelah dia naik takhta kerajaan dipertimbangkannyalah mana yang baik dan sesuai dengan jiwanya diantara kedua agama, Kristen atau Islam, dan mana pula yang akan sesuai dengan politik pemerintahannya. Dilihatnya pula bahwa golongan rakyatnya yang terbesar adalah umat Islam. Meskipun telah sedemikian teguh kekuasaanya, namun dia melihat bahwa seluruh rakyat belum lagi puas dan masih memandangnya sebagai “orang pendatang” dalam negeri Iran, akhirnya jatuhlah pilihannya kepada Islam dan diresmikannya bahwa dia seorang Muslim dan ditukarnya namanya menjadi “Ahmad Khan” dan dipakainya gelar “Sultan”.[13]
j.        Aragon Khan (1284 – 1291 M)
Raja ini telah memeluk agama Islam sebagai yang digantikannya, tetapi siasat yang dipakainya tidaklah lanjutan daripada siasat Ahmad Khan. Dia menganti Wazir lama dengan Wazir yang baru, yang bernama Sad-ud-Daulah, seorang Yahudi. Wazir ini amat pintar mengumpulkan uang lagi manis mulutnya berkata – kata dan pandai menarik hati, tetapi sangat berdendam kepada orang islam. Orang Kristen diberinya hati dan ditolongnya mendirikan gereja – gereja, sedangkan Masjid – masjid dihancurkan. Waktu itu kaum Muslimin sangat cemas. Tetapi kemudian Aragon ditimpa sakit, yang membawa matinya. Kemudian kaum Muslimin membunuh Sad-ud- Daulah, dan memilih gantinya, yaitu Kaikha Khan. 
k.      Kaikha Khan (1291 – 1295 M)
Raja ini adalah seorang yang sangat pemalas dan tidak memperhatikan kerajaan, memperturutkan hawa nafsunya saja, dan meminum Khamr sepuas-puas hatinya.  Dikirimnya pengawal-pengawal Istana untuk menculik anak-anak gadis orang, sehingga orang tidak merasa aman dan belanja istana terlalu besar. Sehingga ketika bangkit seorang Amir lain memberontak, segera mendapat sekongan yang kuat dari rakyat. Amir itu ialah Baidu Khan.
l.        Baidu Khan (1295 M)
Baidu Khan merupakan cucu dari Hulagu Khan. Dia berhasil membunuh Kaikha Khan. Tetapi Baidu Khan hanya beberapa bulan saja memerintah, karena diberontaki oleh Ghazan Khan, putera Aragon Khan.


m.    Ghazan Khan (1295 – 1304 M)
Ghazan Khan termasyhur sebagai seorang Raja Mongol Islam di Iran yang agak Ganjil tabiatnya. Dia seorang yang taat sekali memegang agama Islam dan mengajak tentaranya memeluk Agama Islam 100.000 orang banyaknya. Tetapi orang Kristen ditolongnya dan beberapa negeri Islam diperanginya. Puteranya Khudha Bhandah atau Abdullah menjadi penggantinya.[14] 
n.      Khudha Bandah Khan (1304 – 1317 M)
Khudha Bandah Khan sangat setia membela mazhab syiah. Ia meresmikan dasar madhab syiah itu dalam kerajaan dan menyuruh rakyatnya memuji nama Imam Syiah yang 12 orang. Gerakan perluasan tidak banyak terjadi di zaman Khudha Bandah.
o.      Abu Said (1317 – 1335 M)
Pada masa Abu Said terjadi pemberontakan di Syirwan. Abu Said sendiri yang pergi kesana memimpin tentaranya, tetapi ditengah jalan baginda jatuh sakit yang membawa ajalnya. Kemudian jenazahnya dikuburkan dipekuburan nenek moyangnya raja – raja Mongol.
Dengan mangkatnya beliau tidaklah ada penggantinya lagi, sehingga terputuslah kerajaan keturunan Hulagu Khan itu, yang dari nenek moyangnya menjadi musuh Islam nomor satu, maka sampai kepada cucu Hulagu Khan yang bernama Nikodar telah memeluk agama Islam dan menjadi pembela Islam yang taat dan membina sejarah yang gilang gemilang. Disambung oleh Ghazan Khan.
Dan dengan mangkatnya Sultan Abu Said, kembalilah negeri Iran terpecah belah, masing – masing amir hendak berdiri sendiri, sampai datang seorang pahlawan Mongol – islam yang lain, yang namanya akan tersebut pula dimana – mana sebagai raja besar yang gagah perkasa dan kejam bengis, yaitu Timurlank.[15]
3.      Dampak Serangan Mongol
Dampak negatif tentunya lebih banyak bila dibandingkan dampak positifnya. Kehancuran tampak jelas dimana – mana dari serangan Mongol sejak dari wilayah timur hingga kebarat. Kehancuran kota – kota dengan bangunan yang indah – indah dan perpustakaan – perpustakaan yang mengoleksi banyak buku memperburuk situasi umat Islam. Pembunuhan terhadap umat Islam terjadi. Yang lebih fatal lagi ialah hancurnya Baghdad sebagai pusat Dinasti Abbasiyah yang didalamnya terdapat berbagai macam tempat belajar dengan fasilitas perpustakaan lenyap dibakar oleh Hulagu. Suatu kerugian besar bagi Khazanah ilmu pengetahuan yang dampaknya masih dirasakan hingga kini.[16] 
Dampak positif dengan berkuasanya Dinasti Mongol ini setelah para pemimpinnya memeluk agama Islam. Mereka dapat menerima dan masuk ke agama Islam antara lain disebabkan karena mereka berasilimasi dan bergaul dengan masyarakat muslim dalam jangka panjang, seperti yang dilakukan oleh Ghazan Khan (1296 – 1304) yang menjadikan Islam sebagai agama resmi kerajaannya, walau dia pada mulanya beragama Budha rupanya dia telah mempelajari ajaran agama – agama sebelum menetapkan keislamannya, dan yang lebih mendorongnya masuk Islam ialah karena pengaruh seorang menterinya, Rasyid al-Din yang terpelajar dan ahli sejarah yang terkemuka yang selalu berdialog dengannya, dan Nawruz, seorang gubernurnya untuk propinsi Syira. Sepeninggal Ghazan, dia digantikan oleh Uljaytu (1305 – 1316) yang memberlakukan aliran Syi’ah sebagai hukum resmi kerajaannya. Dia mendirikan ibukota baru yang bernama Sulthaniyah dekat Qazwin yang dibangun dengan arsitektur khas II-Khaniyah. Banyak koloni dagang Italia terdapat di Tabriz, dan II-Khanifah menjadi pusat perdagangan yang menghubungkan antara dunia barat dan India serta Timur jauh.[17]

B.     Timur Lenk
1.      Timur Lenk
Sang penakluk ini lahir dekat Kesh (sekarang Khakhrisyabz, “Kota Hijau”, Uzbekistas), sebelah selatan Samarkand di Transoxiana, pada tanggal 8 april 1336 M / 25 Sya’ban 736 H, dan meninggal di Otrar pada tahun 1404 M. Ayahnya bernama Taragai, kepala suku Barlas, keturunan Karachar Noyan yang menjadi menteri dan kerabat Jagatai, putra Jengis Khan. Suku Barlas mengikuti Jagatai mengembara kearah barat dan menetap di Samarkand. Taragai menjadi gubernur Kesh. Keluarganya mengaku keturunan Jengis Khan sendiri.[18]
Sejak usia masih sangat muda, keberanian dan keperkasaanya yang luar biasa sudah terlihat. Ia sering diberi tugas untuk menjinakkan kuda –kuda binal yang sulit ditunggangi dan memburu binatang – binatang liar. Sewaktu berumur 12 tahun, ia sudah terlibat dalam banyak peperangan dan menunjukkan kehebatan serta keberanian yang mengangkat dan mengharumkan namanya dikalangan bangsanya.[19]
Visinya tentang Islam dogmatis, kasar dan kejam kurang terkait dengan ketaatan konserfatif ulama atau doktrin sufi tentang cinta, ia melihat dirinya sebagai bencana dari Allah, yang dikirim untuk menghukum amir muslim karena amalan – amalan mereka yang tidak adil. Focus utamanya adalah membangun ketertiban dan menghukum penyelewengan.[20]
2.      Serangan – Serangan Timur Lenk
Pada 10 April 1370 M, Timur Lenk memproklamirkan dirinya sebagai penguasa tunggal di Transoxiana. Sepuluh tahun pertama pemerintahannya, ia berhasil menaklukkan Jata dan Khawarizm.
Pada tahun 1381 M ia menyerah dan berhasil menaklukkan Khurasan. Setelah itu serbuan ditujukan kea arah Herat. Disini ia juga keluar sebagai pemenang. Ia tidak berhenti sampai disitu, tetap terus melakukan serangan ke negeri – negeri lain dan berhasil menduduki negeri – negeri di Afghanistan, Persia, Fars dan Kurdistan. Disetiap negeri yang ditaklukkanya, ia membantai penduduk yang melakukan perlawanan. Di Sabzawar, Afghanistan bahkan ia membangun menara, disusun dari 2000 mayat manusia yang dibalut batu dan tanah liat. Di Isfahan, Iran ia membantai lebih kurang 70.000 penduduk. Kepala – kepala dari mayat – mayat itu dipisahkan dari tubuhnya dan disusun menjadi menara. Dari sana ia melanjutkan ekspansinya ke Irak, Syira dan Anatolia (Turki).[21]
Pada tahun 1395 M ia menyerbu daerah Qipchak, kemudian menaklukakn Moskow yang didudukinya selama lebih dari setahun. Tiga tahun kemudian ia menyerang India. Konon, alasan penyerbuanya adalah karena ia menganggap penguasa muslim di daerah ini terlalu toleran terhadap penganut Hindu.[22]
Pada tahun 1401 M ia memasuki daerah Syria bagian utara. Tiga hari lamanya Aleppo dihancurkan. Kepala dari 20.000 penduduk dibuat piramida setinggi 10 hasta dan kelilingnya 20 hasta dengan wajah mayat menghadap keluar. Pada tahun ini pula pasukan sultan Faraj dari kerajaan Mamalik dapat dikalahkannya dalam suatu pertempuran dahsyat sehingga Damaskus jatuh ke tangan pasukan Timur Lenk.
Pada tahun 1402 M terjadi peperangan yang menentukan di Ankara. Tentara Usmani menderita kekalahan sementara Sultan Bayazid, penguasa kerajaan Usmani tertawan ketika hendak melarikan diri. Bayazid akhirnya meninggal dalam tawanan. Timur lenk melanjutkan serangannya ke Broessa, ibu kota lama Turki, dan Smyrna. Setelah itu ia kembali ke Samarkand untuk merencanakan invasi ke Cina, namun di tengah perjalanan, tepatnya Otrar, ia menderita sakit yang membawa kepada kematiannya. Ia meninggal tahun 1404 M, dalam usia 71 tahun. Jenazahnya dibawa ke Samarkand untuk dimakamkan dengan upacara kebesaran.[23]
3.      Keistimewaan Timur Lenk
Sekalipun ia terkenal sebagai penguasa yang sangat ganas dan kejam terhadap para penantangnya, sebagai seorang muslim Timur Lenk tetap memperhatikan pengembangan Islam. Bahkan dikatakan, ia seorang yang saleh. Konon, ia adalah penganut Syiah yang taat dan menyukai tasawuf tarekat Naqsabandiyah. Dalam perjalanan – perjalananya ia selalu membawa serta ulama –ulama, sejarawan dan seniman. Ulama dan ilmuwan dihormatinya. Ketika berusaha menaklukkan Syiria bagian utara, ia menerima dengan hormat, sejarawan terkenal, ibnu khaldun yang diutus Sultan Faraj untuk membicarakan perdamaian. Ia juga meningkatkan perdagangan dan industri di negerinya dengan membawa rute –rute perdagangan berusaha mengatur administrasi pemerintahan dan angkatan bersenjata dengan cara – cara rasional dan berjuang menyebarkan Islam.[24]


BAB III
KESIMPULAN

Bangsa Mongol dari masyarakat hutan yang mendiami Siberia dan Mongol luar disekitar Danau Baikal. Mongol mempunyai anak yang bernama Ilkhan yang dikemudian hari akan melahirkan pemimpin bangsa Mongol.
Timur Lenk merupakan putra dari Taragai, kepala suku Barlas. Sewaktu berumur 12 tahun, ia sudah terlibat dalam banyak peperangan dan menunjukkan kehebatan serta keberanian yang mengangkat dan mengharumkan namanya di kalangan bangsanya.


[1] Ahmad Chairi Rofiq, M Fil 1, Sejarah Peradapan Islam (Ponorogo : STAIN Press, 2009), 167
[2] Drs. Badri Yatim, M.A Sejarah Peradapan Islam, (Jakarta : PT Rajawali Press, 2010). III
[3] Ahmad Choirul Rofia, 167-168
[4] Badri Yatim, 112
[5] Prof Dr. H. I Nurul Aen, MA,  Sejarah Peradapan Islam, (Bandung : CV Pustaka Setia, 2008), 177-178
[6] Ibid, 178
[7] Drs. Badri Yatim, 112-113
[8] Drs. Badri Yatim, 113
[9] Ahmad Choirul Rofiq, 169-170
[10] Ahmad Choirul Rofiq, 70
[11] Drs. Badri Yatim, 144
[12] Ahmad Choirul rofiq. 171
[13] Ibid, 46
[14] Ibid, 49
[15] Ibid, 51
[16] Ahmad Choirul Rofiq, 174 - 175
[17] Ibid, 175 - 176
[18] Badri Yatim, 188
[19] Ibid, 118
[20] Karen Armstrong, Islam : Sejarah singkat, (Yogyakarta : Penerbit Jendela, 2003) 127
[21] Ibid, 119 – 120
[22] Ibid, 120
[23] Ibid, 121 – 122
[24] Ibid, 122 – 123

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar